.:: eSHa pada Agustus s/d Oktober 2008 ::.
media @ 7:20 PM

Usulan penambahan satu lokasi percontohan program menjadi empat lokasi, tidak jadi ditindaklanjuti karena pertimbangan pengembangan program ke depan. Dalam periode ini, kegiatan yang menonjol adalah tinggal bersama komunitas (live-in) di 3 lokasi percontohan. Masing-masing petugas pendamping sudah lebih dikenal oleh warga. Pekerjaan pendampingan masih dalam tahapan analisis situasi, di mana di tahap ini tim memfokuskan diri untuk menjangkau areal-areal dusun sampai ke pelosok-pelosok desa dengan tujuan untuk lebih mengenal langsung kehidupan warga di dusun-dusun dan melihat potensi mereka. Kedekatan tim dengan warga memberi peluang untuk tim menggelar pertemuan bersama warga. Pemahaman warga terhadap program Serviso Hamutuk semakin baik, dibanding dengan sebelumnya. Kini mereka lebih mudah dan senang berdiskusi tentang persoalan hidup yang dihadapi tanpa tuntutan untuk segera dibantu. Mereka lebih memahami peran kami sebagai advokat atau pembela mereka. Dalam beberapa pertemuan dengan warga, banyak terdengar keluhan tentang lemahnya kesadaran gotong royong di antara mereka. Mereka tahu bahwa selama ini mereka sangat bergantung pada bantuan. Dan sampai di sini mereka terkesan pasrah sambil menunggu perubahan secara struktural di dalam komunitas mereka. Seorang warga di desa Bakustulama berkata “kami tidak bisa berbuat apa-apa karena aparat kami memang tidak bisa diharapkan; saya tidak tau apa sebenarnya yang mereka kerjakan!”.

Terdapat perbedaan yang signifikan antara temuan tim dalam assesment desa dan assesment dusun. Dalam assesment desa, tradisi gotong royong terkesan masih kuat serta suasana konflik dan kekerasan tidak begitu nampak, hal ini sempat membuat kami sangat percaya diri bahwa hambatan terhadap pelaksanaan program mungkin tidak begitu berat. Namun dalam assesment dusun, kami menemukan fakta seorang istri meninggal karena digorok oleh suaminya di dusun Tulama desa Bakustulama. Di dusun Laninis desa Lawalutolus, seorang pemuda mengalami 12 jahitan di dada kirinya karena ditikam oleh seorang warga dalam suasana perayaan adat dimana banyak tokoh adat, pastor dan pemerintah hadir di sana. Begitu juga yang dialami oleh warga di Desa Bakstulama dalam suasana khidmat perarakan patung Bunda Maria untuk memaknai bulan Oktober sebagai bulan Rosaria. Mereka merasa terganggu dan terpaksa berlari ketakutan dari dalam Kapela karena di depan pintu kapela ada beberapa laki-laki saling mengancam dengan memegang parang, batu dan pedang hanya karena ulah lepas kontrol dua laki-laki yang mabuk. Tiga kasus ini telah menjadi urusan polisi.

Sesuai dengan motto kami; kenal, dekat, berbaur dan belajar atau “NATURAL”, kami berupaya mengenal serta menjadi dekat dengan komunitas lewat pendekatan desa dan pendekatan dusun. Sedangkan untuk berbaur dan belajar, kami memulai dengan menjadi bagian langsung dalam pola keseharian mereka. Kami melihat ada beberapa masalah menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar yakni:
  1. Air bersih yang terbatas pada musim kemarau di beberapa dusun sehingga warga terpaksa mengkonsumsi air yang berwarna kecoklatan dan keruh.
  2. Status tanah yang tidak jelas menyebabkan warga settlement di desa Lawalutolus dan Bakustulama merasa tidak nyaman dan sangat berhati-hati dalam membangun relasi antar sesama warga. Kami di sini harus hati-hati untuk bangun hubungan, salah-salah kita bisa diusir, kita mau tinggal di mana lagi, kata seorang ibu di desa Bakustulama yang menggambarkan suasana hatinya. Ucapan ibu ini terbukti; kasus pembunuhan suami terhadap istrinya (sang istri adalah adik kandung tuan tanah) tidak hanya membawa suaminya ke penjara, tapi rumahnya juga langsung diratakan setelah acara pemakaman.
  3. Pangan yang tidak mencukupi sehingga beberapa petani merasa bekerja sia-sia (desa Bakustulama dan Lawalutolus)
  4. Jalanan yang semakin rusak dari waktu ke waktu berdampak pada naiknya biaya transportasi, khususnya di dusun Maukliman desa Fatuba’a sehingga pedagang hasil bumi merugi.
  5. Banyak anak yang tidak sekolah dan putus sekolah di dusun Oe’oan dan Maukliman desa Fatuba’a karena jarak SD yang jauh, 4-6 Km pergi-pulang.
  6. Di dusun Fohodunuk dan Laninis - desa Lawalutolus, satu rumah masih dihuni oleh 3 rumah tangga, sehingga konflik rumah tangga sering terjadi. Pola tinggal seperti ini banyak ditemui. Aparat dusun saat ini masih melakukan pendataan.
  7. 75% warga di dusun Laninis dan Fodunuk tidak memiliki WC. Aktifitas BAB sering dilakukan di kebun dan sungai.
Dalam perspektif pekerjaan sosial, bina damai mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar. Di mana pencapaian kedamaian sosial, pada hakekatnya hanya dapat diwujudkan jika kebutuhan dasar manusia terpenuhi. Air bersih, makanan, perumahan, pendidikan, sanitasi dan kesehatan merupakan jenis-jenis kebutuhan dasar yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup.

Dari penelusuran desa pada triwulan II dan penelusuran dusun di triwulan III, kami memasuki triwulan IV dan akan fokus pada pengkajian masalah untuk mencari akarnya dan memetakan kekuatan komunitas. Beberapa masalah yang disebutkan di atas akan kami konfirmasi lebih lanjut dalam satu bulan pertama triwulan IV. Satu hal penting yang akan kami kaji adalah mengenai sejauh mana hubungan saling mempengaruhi antara masalah-masalah kebutuhan dasar dan konflik atau sebaliknya konflik serta munculnya masalah-masalah kebutuhan dasar yang dialami. Kami membuat 4 matriks untuk memulai proses ini selain melakukan pertemuan komunitas berkala dan pendampingan terfokus pada kelompok khusus. Ke-4 matriks tersebut adalah matriks kajian masalah, kajian gender, pemetaan tokoh dan pengalaman mediasi serta pemetaan perempuan yang peka terhadap isu keadilan sosial.

KEGIATAN TIM SERVISO HAMUTUK
Pada triwulan III ini, kami merasakan penerimaan yang baik dari masyarakat terhadap pelaksanaan program Serviso Hamutuk. Namun kami belum membicarakan secara mendalam bersama mereka mengenai akar konflik dan analisis SWOT, seperti yang kami harapkan dalam perumusan Tujuan-Hasil untuk Triwulan III. Kami masih merasa kurang sebagai pendamping dan fasilitator desa, untuk itu dalam pertimbangan kami, selain melakukan penelusuran desa, perlu juga melakukan penelusuran dusun agar lebih mengenal komunitas dan sebaliknya lebih banyak warga yang mengenal kami. Hasil dari penelusuran dusun adalah persoalan-persoalan komunitas menjadi begitu nyata dan kaitannya dengan konflik juga semakin terasa.

Bulan Agustus hingga Oktober 2008 ini merupakan bulan yang cukup sibuk untuk persiapan PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) bagi rakyat Belu dan NTT pada umumnya. Di jalan, kebun, pasar, dalam cerita antar tetangga, di sumur, sungai, pesta dan lain-lain pembicaraan tentang calon-calon dalam PILKADA menjadi issue hangat yang menyedot perhatian orang-orang yang mendengarkan. Mobilisasi warga dalam kampanye massa juga sangat tinggi. Dalam beberapa kunjungan, teman-teman pendamping sering mendapati rumah-rumah warga kosong karena mengikuti keramaian kampanye. Rencananya PILKADA Belu akan berlangsung pada tanggal 22 Oktober 2008.

Kegiatan yang dilakukan Tim:
  1. Tinggal 2-3 hari di desa dalam tiap 1 atau 2 minggu.
  2. Melakukan dokumentasi dan analisis konflik yang pernah terjadi atau yang ditemui selama 6 bulan (Mei-Agustus 2008)
  3. Meneliti faktor penyatu dan pemecah di komunitas
  4. Sebagai support untuk kegiatan komunitas, tim hanya terlibat untuk dokumentasi (foto) dalam acara adat dan keagamaan (bulan Rosario). Kami belum menggunakan dana yang disediakan untuk mendukung kegiatan itu, karena mempertimbangkan dampaknya.



----------
.:: Pemukiman dan Pemberdayaan Fokus Penyelesaian Masalah Warga Baru ::.
media @ 7:20 AM

Catatan Dialog Radio


DR. Yan Kolibau : "Kondisi wilayah barat yang miskin, pilihan pekerjaan yang sulit dan menurunnya tanggungjawab pemerintah pusat adalah masalah pokok yang menyebabkan persoalan warga baru eks Timor-Timur tidak berakhir sampai sekarang".

Oleh:
Theo Wetangterah


Kabupaten Belu adalah salah satu Kabupaten penerima warga baru eks Timor-Timur pasca jajak pendapat tahun 1999. Dengan kehadiran mereka memberi masalah tersendiri bukan hanya bagi pemerintah kabupaten namun merupakan masalah Internasional.

Hampir delapan tahun sudah Pemerintah Nasional, PEMDA Propinsi NTT, hingga di level Kabupaten Belu telah melakukan upaya penanganan warga baru ini bahkan juga memberikan perhatian kepada masyarakat lokal yang terkena dampak pengungsian. Dan hingga tahun 2008 ini, PEMDA NTT/SATKORLAK PB NTT termasuk Pemerintah Kabupaten Belu masih memiliki komitmen dan usaha untuk melanjutkan penyelesaian masalah warga baru eks Timor-Timur.

CIS Timor dan Oxfam GB selaku NGO yang peduli terhadap keberadaan warga baru eks Timor-Timur ini terus melakukan pendampingan dan advokasi untuk melanjutkan persoalan tersebut.

Salah satu bentuk kampanye dan advokasi CIS Timor dan Oxfam GB dalam mendukung program dan kebijakan pemerintah untuk melanjutkan penyelesaian masalah warga baru eks Timor-Timur di Timor Barat adalah dialog radio interaktif.

Dialog radio ini dimaksudkan agar terciptanya suatu koordinasi yang baik antara pemerintah, NGO dan masyarakat sipil sehingga bisa menghasilkan gagasan-gagasan baru dalam menjawab tantangan-tantangan yang dialami oleh berbagai pihak dalam penyelesaian masalah tersebut.

Pada 14 Pebruari 2008 di RSPK Belu, CIS Timor dan Oxfam GB dengan bantuan dana dari Uni Eropa menyelenggarakan dialog radio dengan menghadirkan Bupati Belu, DR. Yan Kolibau dan Winston Rondo sebagai Narasumber.

Kegiatan ini dilakukan dengan mengambil topik "Refleksi dan diskusi tentang usaha bersama Pemerintah, NGO dan masyarakat sipil dalam kerangka melanjutkan penanganan masalah warga baru eks Timor-Timur di Kabupaten Belu", dengan moderator Haris OEmatan.

Dalam pembicaraannya, Joachim Lopez menyatakan bahwa ada dua kegiatan pokok yang telah dan sementara ini dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Belu dalam upaya untuk melanjutkan penyelesaian masalah warga baru eks Timor-Timur yaitu Perumahan dan Pemberdayaan.

"Kami sebagai pemerintah K­a­bu­paten Belu akan terus berusaha un­tuk me­lanjutkan upaya ini", ujarnya saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan materinya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pemerintah Belu terus mem­buka ruang bagi seluruh elemen masyarakat untuk membantu dalam upaya penyelesaian masalah tersebut.

Menanggapi pertanyaan dari Fictor Borges, penghuni pemukiman yang dibangun oleh TNI dengan dana Depertemen Sosial di Asuulun tentang kemungkinan adanya perhatian pemerintah terhadap mereka dan warga baru lainnya yang masih menetap dikamp, Bupati Belu Joaquim Lopez mengatakan dalam tahun anggaran 2007 Departemen Sosial RI sudah mengalokasikan dana untuk pembangunan 1.500 unit rumah dengan alokasi 900 unit untuk warga baru dan 600 unit untuk warga lokal.

"Kalau untuk pemberdayaan kami sementara melakukan pola pem­berdayaan dengan pendekatan kelompok ekonomi produktif, dan yang sementara berjalan adalah bantuan untuk kelompok tambal ban, dan peternakan", ujar Joachim.

Sementara itu Winston Rondo selaku Koordinator CIS Timor, salah satu LSM lokal yang sudah mendampingi warga baru eks Timor-Timur semenjak delapan tahun silam mengatakan bahwa, keberhasilan mereka dalam melakukan advokasi dan pendampingan terhadap warga baru kelahiran Timor-Timur ini tidak terlepas dari terbukanya ruang yang diberikan oleh pemerintah pada umumnya terlebih khusus pemerintah Kabupaten Belu.

"Seperti yang kita ketahui bahwa pada 31 Desember 2001 setelah penghentian pemberian bantuan oleh lembaga PBB, pengurusan masalah ini diserahkan kepada pemerintah pusat, namun oleh mereka malah masalah ini dibebankan kepada pemerintah daerah propinsi hingga kabupaten. Dan PEMDA yang paling konsisten dan cepat tanggap hanyalah PEMDA Belu", ujarnya mengawali pembicaraan.

"PEMDA kabupaten yang paling komit dalam penyelasaian masalah warga baru adalah PEMDA Belu dimana mereka mengalokasikan dana untuk penanganan masalah warga baru dalam APBD mereka, dan ini harus diikuti oleh PEMDA kabupaten lain yang juga menangani persoalan yang sama", tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam upaya melanjutkan usaha penyelesaian masalah warga baru ini Pemerintah, NGO dan masyarakat sipil lainnya harus memfasilitasi kegiatan-kegiatan pendukung dalam upaya penuntasan masalah tersebut.

"Ada dua hal yang perlu kita lakukan yaitu penyelesaian pembangunan pemukiman dan pemberdayaan masyarakat yang berbasis integrasi", ujarnya.

"Hal ini harus terus kita lakukan karena menurut catatan kami ada peningkatan secara drastis, karena dari 170 kamp pengungsian pada tahun 1999 dan pada akhir 2007 berkurang hingga 50-an kamp pengungsian dengan 1000-1200 keluarga berada di kabupaten Belu dan kalau tahun 2008 ini tekat PEMDA Belu sesuai dengan apa yang disampaikan oleh pak Bupati, menurut kami persoalan bagi warga yang masih tinggal di kamp bisa dituntaskan".

Lainhalnya dengan DR. Yan Kolibau. Sebagai salah satu narasumber ia melihat dari aspek mengapa persoalan warga baru eks Timor-Timur tidak pernah terselesaikan semenjak masa emergancy hingga sekarang.

"Bagaimana kita bisa membantu mereka dengan baik kalau kondisi bahagian barat yang miskin dengan Pendapatan Asli Daerah Propinsi NTT dan Kabupaten Belu hanya empat sampai enam persen dari total kebutuhan pengeluarannya, hal ini yang menyebabkan gubernur, bupati atau siapa saja tidak bisa menyambut saudara sekalian dengan kehangatan dari sisi ekonomi dengan memberikan rumah yang bagus, fasilitas kesehatan yang baik dan yang lainnya".

Selain karena kondisi wilayah barat yang miskin, menurut Yan Kolibau faktor pilihan pekerjaan yang sulit dan kurangnya ketegasan dari pemerintah pusat dalam menangani persoalan ini menjadi penyebab belum selesainya penanganan masalah warga baru eks Timor-Timur.

"Ketegasan atau sikap pemerintah pusat untuk bertanggung jawab penuh atas persoalan ini sangat dibutuhkan, karena bapak, ibu saya yang tinggal disini atas keputusan pemerintah yang ada di jakarta bukan keputusan Bupati Belu atau gubernur NTT". Lanjutnya karena itu kalau sudah mengambil keputusan maka pemerintah pusat harus bertanggunjawab penuh sampai tuntas persoalan ini, sesuai dengan waktu yang sudah disepakati bukan mengulur-ulur atau melempar tanggung jawab kepada Bupati Belu atau Gubernur.

Diakhir dialog radio yang dihadiri oleh 75 peserta yang berasal dari unsur pemerintah, dan warga baru kelahiran Timor-Timur dari berbagai lokasi di wilayah Belu ini, Bupati Belu meng­­harap­kan agar dialog interaktif seperti ini harus tetap dilaksanakan guna penyamaan presepsi dan pemahaman dalam memandang persoalan yang dihadapi.

"Presepsi yang sama dalam memandang persoalan yang kita hadapi maka kita dapat membangun derap langkah untuk terus berupaya menanggulangi permasalahan-per­­masalah­an yang masih kita hadapi baik sebagai pemerintah, LSM maupun masyarakat sipil yang lain", tegas Bupati Belu.

"Untuk warga baru, kami juga sangat harapkan selain bantuan yang diberikan oleh pemerintah maupun LSM, kita sendiri juga harus punya tekad yang kuat untuk keluar dari lingkaran permasalahan yang kita hadapi. Untuk penanggulangan kemiskinan tidak akan berhasil kalau tidak ada tekat yang kuat dari diri kita sendiri untuk keluar dari persoalan itu".

Sementara itu Pemerhati Sosial, DR. Yan Kolibau, mengatakan bahwa dalam upaya untuk mencari solusi terhadap persoalan pemberdayaan masyarakat.

"Masyarakat sendiri harus berani untuk merubah pola hidup dari profesi sebagai petani dan mencari profesi yang lain guna meningkatkan taraf hidup. Tentunya harus ada dukungan dari pemerintah maupun LSM untuk memberikan pelatihan terhadap mereka".

"Bagi saya, saya melihat daya juang yang ada pada diri bapak-ibu warga baru eks Timor-Timur. Ada semangat untuk mempertahankan hidup, semangat untuk berubah dan menata hidup baru. Yakinlah bahwa dengan modal kemampuan yang ada pada diri kita, dan proses bertahap dari pemerintah dan pihak-pihak terkait persoalan ini bisa kita selesaikan", tegas Winston mengakhiri dialog radio hari itu.



----------
.:: Rekomendasi Diskusi Publik “Review Implementasi Target MDGs di NTT sebagai Komitmen Mengurangi Kemiskinan di Daerah” ::.
media @ 8:17 AM


Melalui kerjasama PPKM, CSO-Indonesia dan Yayasan Alfa Oemega (YAO). Kemudian YAO memfasilitasi diskusi terkait MDGs di NTT tersebut. Kegiatan sehari ini berlangsung pada tanggal 1 Desember 2007 di aula YAO. Adapun narasumber : Bappeda Propinsi NTT, DPRD NTT (Bpk Kristo Blasin) , Ketua Sinode GMIT (DR Eben Nuban Timo) , dan CSO- Indonesia.
Usi Ana Jukana (media), Bung Fred Benu (pakar Ekonomi) , Bung Yulius Bobo (Politisi) , dan Bung Mario (GTZ).

Kegiatan ini di hadiri oleh utusan dari pemda, Tokoh masyarakat, Media, aktifis perempuan, Pelaku ekonomi-mikro, OKP seperti GMKI, dan NGOs (termasuk utusan CIS Timor. Diskusi ini dipandu oleh Om Pius Rengka telah berhasil menemukan beberapa rekomendasi yang bermanfaat bagi pencapaian MDGs di NTT.
Melalui ketua panitia (Bung Minggus Umbu Sasa) yang mengatasnakan forum, menyampaikan hasil rumusan sebagai dokumen bersama sebagai berikut


A. Situasi Konkrit NTT

  • Populasi penduduk : 4.260.294 jiwa (laki-laki 49%, perempuan 50%)
  • Angkatan kerja 79% dan tingkat pengangguran yang tinggi
  • Pertanian merupakan lahan kerja utama, menjadi buruh migran juga merupakan lapangan kerja alternatif yang cukup diminati.
  • Angka putus sekolah dari pendidikan dasar tinggi (33%), perempuan merupakan mayoritas
  • Angka buta huruf 13%, mayoritas dialami perempuan
  • Gizi kurang 17,91%; gizi buruk 2,91%
  • Kemiskinan masih menjadi persoalan besar (hampir 65% masih miskin)
  • Angka Kematian Ibu masih tinggi (554/100.000 ibu melahirkan)
  • Angka partisipasi sekolah anak perempuan masih rendah
  • Masih banyak terjadi kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan (misal budaya belis)
  • Angka kematian anak masih tinggi (62/100.000 anak)
  • Air bersih, sanitasi dan pemukiman masih belum tersedia secara optimalKeterlibatan sektor swasta masih kurang

B. Rekomendasi

1. Ditingkat Pemerintah

  • Melibatkan masyarakat miskin, perempuan, kelompok minoritas, kelompok berkebutuhan khusus mulai dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan dan monitoring program-program membangun kualitas manusia NTT
  • Mensosialisasikan MDGs sebagai HAK-HAK DASAR RAKYAT di seluruh level pemerintah daerah
  • Menyusun anggaran dan monitoringnya yang berpihak pada rakyat miskin, perempuan, kelompok minoritas, kelompok berkebutuhan khusus
  • Kritis terhadap agenda neoliberalisme yang memiskinkan rakyat
  • Memperbaiki data-data yang berkaitan dengan MDGs agar lebih akurat

2. Di tingkat Parlemen

  • Melibatkan masyarakat miskin, perempuan, kelompok minoritas, kelompok berkebutuhan khusus mulai dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan dan monitoring kebijakan-kebijakan pembangunan kualitas manusia NTT
  • Menyusun kebijakan-kebijakan lokal yang berpihak pada masyarakat miskin, perempuan, kelompok minoritas dan kelompok berkebutuhan khusus
  • Mengkritisi tradisi / adat yang tidak berpihak pada perempuan dan masyarakat miskin
  • Mensosialisasikan MDGs sebagai HAK-HAK DASAR RAKYAT di tingkat parlemen daerah
  • Kritis terhadap agenda neoliberalisme yang memiskinkan

3. Tingkat Pemuka Agama

  • Memperkuat para pemuka agama untuk lebih kritis terhadap program / kebijakan yang memiskinkan rakyat
  • Memperkuat para pemuka agama untuk menjadi ‘penyambung lidah’ rakyat pada level-level yang tidak bisa diakses rakyat secara langsung
  • Mendorong para pemuka agama untuk mensosialisasikan MDGs seabgai HAK-HAK DASAR RAKYAT yang harus dipenuhi Negara

4. Di Tingkat Masyarakat / Akar Rumput

  • Memperkuat kapasitas masyarakat sipil untuk melakukan monitoring terhadap program/kebijakan, anggaran pembangunan kualitas manusia
  • Memperkuat jaringan masyarakat sipil untuk terus mengawal program/kebijakan yang memberdayakan rakyat, kelompok minoritas dan kelompok berkebutuhan khusus
  • Lebih kritis terhadap dana-dana untuk program-program penanggulangan kemiskinan (bukan hutang)
  • Lebih kritis terhadap globalisasi, kebijakan yang berorientasi pada ekonomi global
  • Mensosialisasikan MDGs sebagai HAK-HAK DASAR RAKYAT di kalangan masyarakat yang lebih luas
  • Membangun data alternatif untuk isu MDGs

5. Di tingkat Media

  • Memperkuat media untuk lebih berpihak kepada rakyat miskin, perempuan, kelompok minoritas, kelompok berkebutuhan khusus
  • Terus-menerus melakukan sosialisasi MDGs sebagai HAK-HAK DASAR RAKYAT di berbagai media



----------
:: Kampanye “Gizi dan masa depan keluarga” ala CIS Timor ::
media @ 1:18 AM

Peningkatan gizi keluarga dan peningkatan pendapatan keluarga
melalui program Food security adalah tema utama program ATUP II.
Upaya untuk mewujudkan hal ini, telah dilakukan berbagai persiapan
baik sosial, lapangan maupun fisik bersama masyarakat.
Untuk tahap I, CIS Timor melakukan intervensi
di 5 lokasi, yakni Bortetuk (210 KK) (Desa Halifunan),
Lakfehan A (58 KK) dan Pantai Laitubuh (24 KK) (Desa Dualaus),
Sukabisikun (58 KK) (Desa Litamali) dan Wematek (44 KK) (Desa Lakekun Barat).

Kelima lokasi tersebut telah sampai pada training komunitas
untuk peningkatan capacity building komunitas sebelum melakukan implementasi program.
Training ini dilakukan sendiri oleh staf CIS Timor yang
dilakukan secara Tim, yakni bidang perikanan, pertanian dan peternakan.
Dari materi training yang disampaikan, fasilitator sangat menekankan
pentingnya teknologi ramah lingkungan yang merupakan misi dalam program Food security kali ini. Dari pelatihan ini, ada keseimbangan peran antara perempuan dan laki-laki,
ini terlihat dari kehadiran dan antusiasnya peserta dalam berbagai diskusi.

Bidang Pertanian
Dilakukan di dua tempat yakni di atambua pada tanggal 6 Juni 2007,
dan di betun pada tanggal 12 Juni 2007. materi yang disampaikan
adalah Budidaya tanaman tomat, lombok, kacang panjaang, kangkung,
sawi, terung. Pengenalan dan pencegahan hama dan penyakit tanaman secara organik.
Pembuatan pupuk organik dan Manajemen kelompok.oleh Yeni Dadi Lado – Baramata

Bidang perikanan
Dilakukan pada tanggal 8 Juni 2007 di Atambua.
Materi yang disampikan adalah pengenalan perikanan tangkap,
pengoperasian dan pemeliharaan mesin dan perahu dan
manajemen kelompok oleh Olivyanus Dadi Lado dan Lodowik Huna Kore

Bidang peternakan
Dilakukan pada tanggal 9 Juni 2007 di atambua dan 13 Juni 2007 di Betun.
Materi yang disampaikan adalah petunjuk teknis pemeliharaan ternak kambing,
manajemen pemeliharaan ternak kambing berupa, manajemen kandang, manajemen pakan.
Pencegahan dan pengobatan penyakit ternak, reproduksi ternak,
dan manajemen kelompok. Oleh Stefanus Riwu



----------
.:: AFSC assestment situasi Timor Barat ::.
media @ 2:02 AM

AFSC atau American Friends Service Commitee sebagai LSM International berpusat di Jogja yang saat ini tengah bekerja di ACEH sedang melakukan assestment situasi di Timor Barat untuk pengembangan program di NTT. Untuk itu CIS TIMOR memfasilitasi AFSC untuk berdiskusi dengan kawan-kawan NGO dan organisasi mahasiswa dengan Topik: sharing situasi Timor Barat dalam pengalaman kerja NGO dan Organisasi Mahasiswa. Diskusi ini dipandu oleh: Winston di posko CIS Timor pada 08 June 2007. diHadiri oleh 10 Lembaga yakni : Yayasan Pancaran Kasih-TTS, Lakmas-TTU, GMKI-Kupang, Justice and Peace Kupang, Yayasan CEMARA, GMKI Kupang, CIS timor, Forum Kepedulian Kesehatan Masyarakat Manlea, PMPB, Kelompok Bina sadar Mandiri (KASDAM).

Setelah pemandu memberikan pengantar dan memandu perkenalan antar peserta FGD dengan AFSC, maka dilanjutkan oleh perkenalan kerja-kerja AFSC oleh Bapak Steven parker (country representive).

FGD ini berhasil menemukan Isue-Isue Strategis sebagai berikut :
  1. perlunya Penguatan Kapasitas bagi Msy dan LSM yang sedang bekerja di basis
  2. Keterlibatan AFSC diharapkan seirima dengan kerja-kerja LSM/ Organisasi Pemuda/Kemahasiswaan yang ada sekarang.
  3. Spirit partnership (jangka waktu program perlu jangka panjang, tidak berbenturan standard, perspektif ‘bantuan vs bencana-konflik’)

Rekomendasi peserta kepada AFSC :
  1. Pola Projek tidak saja pada ‘duit’ tapi fokus pada pengembangan potensi masyarakat
  2. Keberlanjutan akses terhadap pelayanan dasar (basic service): perlu pendampingan lanjutan (teknis, community building)
  3. AFSC hadir untuk penguatan kapasitas promotor perdamaian bagi kawan-kawan basis
  4. Jika AFSC punya link untuk pertukaran pengalaman belajar ke daerah/wilayah lain
  5. Perlu kolaborasi untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan peace building. Target grup : eks pengungsi 5000-an orang di TTU dan lokal
  6. Membangun ketahanan pangan masyarakat di Timor Barat yang sering dilanda rawan pangan dan busung lapar.
  7. Penguatan ekonomi msy selain pertanian
  8. Capacity building lembaga lokal [prasyarat : sebelum melakukan pemberdayaan masyarakat]
  9. Penegasan spirit Partnership (donor dan LSM belum setara ; standard donor vs idealisme LSM, bekerja dalam jangka waktu panjang).
Diakhir pertemuan, Pak Stev menjanjikan akan datang lagi berkunjung kekupang dan memfollow up hasil pertemuan kepada para peserta yang hadir.







----------
:: Refleksi dari Training INCREASE untuk NGO dan staf Pemda ::
media @ 1:52 AM

Selama seminggu, sejak 28 mey-1 juni 2007, LSM INCREASE ( Institute of Cross-Timor for Economic and Social Development) kembali melaksanakan satu sessi training yang sangat bermanfaat bagi pekerja NGO dan Staf pemerintah dengan topic “Evaluasi dan Keberlanjutan
Untuk Program Pemberdayaan Masyarakat“ (Community Based Evaluation and Sustainability)
dimana fasilitatornya adalah :
  1. pak Fary Dj. Franscis (Smile Link Project Indonesia – Jepang Training Facilitator PKPM - BAPPENAS),
  2. Yohannes Ghewa (Specialist Training Care International),
  3. F. Mario Vieira (Senior Advisor GLG-GTZ), dan Co-Facilitator Rusti Rambu (Program Officer INCREASE).
Peserta Pelatihan berasal dari : ORNOP/LSM adalah YPI, Oxfam GB West Timor, YPK, Yayasan TLM, SSP Soe, CCF, LPA NTT, WVI-Rote) dan Staff Pemerintah (Bappeda Flotim, Sekber TTS, turut serta dalam pelatihan ini adalah Selvister Ndaparoka (koordinator Divisi Advokasy CIS TIMOR).

Dalam sessi training yang berlangsung SERSAN alias serius tetapi santai , muncul beberapa refleksi kritis para peserta berkenaan dengan kerja-kerja pendampingan mereka selama ini sehingga merasa tercerahkan, merasa bertambah wawasan, atau merasa ‘berdosa’, bahkan ada yang merasa semakin bingung. Berikut beberapa poin kunci refleksi yang diuraikan kembali oleh bung Vester :

  1. bentutan antara standard donor versus idealisme pendamping (LSM Lokal),
  2. perbedaan tajam antara Cita-cita organisasi terhadap masyarakat versus kapasitas pendamping dan kesejahteraan mereka yang terbatas.
  3. Kemitraan LSM dan Pemda ternyata belum maksimal dan masih penuh curiga.
  4. ketatnya Standard donor versus nilai-nilai lokal (local wisdom) yang sering digerogoti.
  5. Apa indikator perubahan menurut ‘kita’ dan masyarakat.
  6. Data-Data pendukung kerja masih simpang siur dan tidak terintegrasi.
  7. Masyarakat dipandang hanya sebagai penerima manfaat, bukannya partner.
  8. ‘Kita’ yang berpartisipasi pada kegiatan masyarakat, ataukah sebaliknya?
  9. apa itu keberlanjutan/ sustainability (projek kita yang terus berlanjut, ada uang terus mengalir atau masyarakat yang berkelanjutan dan makin sejahtera?)

Sudah saat nya : semua pelaku pembangunan di NTT (Pemda, NGO, gereja dan komunitas civil society) melakukan evaluasi bersama yang berbasis masyarakat terkait dengan projek/program yang telah dilakukan selama ini.






----------
:: Menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan ::
media @ 1:28 AM

Lokasi baru dengan kemampuan sumber daya yang terbatas, merupakan tantangan kehidupan yang dihadapi oleh setiap warga baru, yaitu mereka baru pindah dari kamp ke lahan mereka yang baru sebagai hasil keputusan untuk menggapai masa depan yang lebih baik.Di lokasi baru ini, mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan apa adanya, baik dari sisi keuangan maupun skill.
Kehadiran CIS Timor dalam komunitas baru ini memberi sedikit perubahan yang berarti bagi mereka. CIS Timor mendampingi komunitas ini dalam hal peningkatan ketahanan pangan melalui program Food security, dalam skema program ATUP I yang bekerja sama dengan Oxfam GB yang didanai oleh Uni Europa. CIS bekerja di kabupaten Kupang dengan 2 lokasi yakni Desa Pantulan (pemukiman Tulakaboak) dan Desa Manusak, dan di kabupaten belu dengan 4 lokasi yakni di desa Dualaus dusun Lakaritirai, Desa kabuna dusun wesasuit, desa Naresa dusun Naresa B dan Desa Dubesi dusun Loohali, ada sektor pertanian holtikultura, peternakan kambing dan perikanan.
Dukungan program ini terhadap komunitas adalah capacity building, pendampingan manajemen kelompok, distibusi bibit, alat pertanian, ternak kambing dan alat tangkap untuk nelayan. Program ini dimulai dengan melakukan survey asset dan potensi komunitasuntuk bidang perikanan, peternakan khususnya ternak kambing dan pertanian tanaman holtikultura. Lalu dilanjutkan dengan melakukan perencanaan bersama komunitas dan pembagian peran antara lembaga pendamping dengan komunitas penerima. Lalu melakukan persiapanlapangan berupa persiapan lahan, persiapan kandang, pakan dan kapalTahapan berikutnya adalah pemberian capacity building untuk bidang yang diminati dengan bekerja sama dengan instansi teknis dari pemda kabupaten.
Kemudian melakukan proses distribusi.Melakukan pendampingancontinue terhadap kelompok bentukan melalui penyuluhan, praktek dan belajar bersama di lapangan, yang dilakukan bersama dengan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari dinas teknis. Pembenahan administrasi kelompok dan pembinaan manajemen kelompok adalah tahapan akhir dari skema pendampingan CIS Timor.Lebih khusus untuk bidang pertanian, kelompok dibekali dengan pengetahuanpraktis tentang penggunaan pupuk organik dan penengenalan metode bercocoktanam yang selaras alam, baik persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan perawatan serta pengobatan penyakit tanaman, penggunaan teknologi yang ramah lingkungan.Untuk bidang peternakan kelompok dibekali dengan pengetahuan pemeliharaan,perawatan kambing bunting dan beranak, pemberian pakan yang sehat,pembuatan kandang yang sehat, pencegahan dan pengobatan penyakit,penyuntikan, penanaman pakan ternak, dll.Kelompok juga melakukan studi lapangan ke kelompok-kelompok yang sudahmapan atau maju dibidangnya masing-masing, serta kelompok dibekaliuntuk bisa melakukan advokasi ke pemerintah untuk kepentingan kemajuankelompok dan mendapat dukungan yang lebih luas sertakerja sama dengan lembaga lain.Saat ini sudah ada empat kelompok tani bidang tanaman holtikultura dan tujuh kelompok ternak kambing serta enam kelompok nelayan yang terus melakukan usahanya walaupun tanpa pendampingan lagi dari CIS Timor sebagai lembaga pendamping untuk memenuhi kebutuhanhidup mereka dilokasi yang baru. Disadari bahwa kebutuhan pangan dan non pangan seperti biaya pendidikan, kesehatan saat ini sudah bisa dipenuhi dari hasil usaha komunitas karena hasil dampingan CIS Timor.



----------
:: Training Disaster Management ::
media @ 1:33 AM

:: Training Disaster Management ::

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 20-24 april. di kompleks susteran belo, Kupang - NTT diadakan kegiatan Traning “INTRODUCTION TO DISASTER MANAGEMENT FOR PARTNERSHIP ORGANISASTION IN NTT”. yang diadakan oleh OXFAM GB yokyakarta dan Perkumpulan Relawan CIS -Timor. dalam kegiatan ini dihadiri 30 orang peserta dari 20 LSM mitra OXFAM GB yang ada di Nusa tenggara timur antara lain :

1. Citra Ngada (Robert Bhute, Christian D Wea)

2. YBDM Ruteng (Rony Marut, Bonefasius Bagus)

3. Oxfam GB - West Timor (Mei Tatengkeng, Lodowyk H. Koreh)
4. Yay. Tananua Flores (Hironimus Pala, Yosef Kopa)

5. YTM TTU (Yohanes Bansae, Marthen Nduan)

6. WTM Maumere (C. Win Keupung)

7. SPRS Sika (Fabianus Toa)

8. ANIMASI So'e (Matheus Antonius Krivo, Yoseph Wilhelmus Lengari)

9. FIRD/YPPS (Melky Baran)

10. PBH Nusra (Herry Naif)

11. Yay. Wali Ati - WGP (Yohanes Langgi)

12. Yay. Ayu Tani Larantuka (Agus Susilo FK)

13. YASTIM Ende (Andre Ave Minggus)

14. FIRD-Ende (Yohanes Dai Silli)

15. Yayasan Obor swadaya (Cristian Adangla)

16. YTIB - Adonara- Flotim (Veronika Lamahoda)

17. PMPB (Jus Nakmofa)

18. YBS - Lembata (Vincent Rahing, Kornelia Penate)

19. PBH Nusra-Maumere (Piter Embu Gusi)

20. CIS Timor (Winston N Rondo)


dan 2 LSM Mitar Oxfam GB yogyakarta dari Jawa :

21. PC NU Jepara (Adib Khoiruszaman)
22. INDIPT Kebumen Jateng (Akhmad Murtajib)

Tujuan kegiatan yang digagas oleh OXFAM GB Yogyakata selama 5 hari ini adalah Untuk meningkatkan kesadaran dan menyediakan pengetahuan minimum, ketrampilan dan pemahaman yang tepat bagi partner non pemerintah yang telah teridentifikasi dalam hal kesiap-siagaan dan respon kemanusiaan,dan juga dalam hal manajemen organisasi dan akuntabilitas standar umum dan “best parctice”. Aktivitas training juga memastikan pemahaman umum tentang menagemen bencana, identifkasi jenis atau tipe bencana dan bagaimana lembaga setempat seharusnya merespon akan bencana, meningkatkan kesadaran dari struktur pemerintah, peran dan tanggung jawab otoritas lokal dan lembaga lainnya.

Dalam kegiatan ini hadir juga Mas Sunarso dari OXFAM GB Yogyakrta dan parapematerinya antara lain :
1. Pendeta Jhon Kampbel Nelson dari Gereja Masehi Injili diTimor (GMIT)
2. Eko Teguh paripurno dari PSMBUPM YK
3. Silvia Fanggidae dari LSM PIKUL.

hasil dari kegiatan ini adalah adanya rekomendasi untuk melakukan Aksi penangulangan bencana di setiap kabupaten di NTT, oleh LSM Peserta traning.



----------

alamat kontak


CIS Timor
Jl.KB.Lestari No.11,Kota Baru, Walikota, Kupang
Nusa Tenggara Timur
Tel/Fax.0380-833210
e mail : cis_timor@telkom.net

Navigasi

aktivitas relawan

10 aktivitas terakhir

  • .:: eSHa pada Agustus s/d Oktober 2008 ::.
  • .:: Pemukiman dan Pemberdayaan Fokus Penyelesaian ...
  • .:: Rekomendasi Diskusi Publik “Review Implementa...
  • :: Kampanye “Gizi dan masa depan keluarga” ala CIS...
  • .:: AFSC assestment situasi Timor Barat ::.
  • :: Refleksi dari Training INCREASE untuk NGO dan s...
  • :: Menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan ::
  • :: Training Disaster Management ::
  • RRI Kupang Minta eks Pengungsi segera Keluar
  • Target 2008 Masalah Pengungsi Tim-Tim selesai
  • arsip aktivitas

  • March 2006
  • June 2006
  • August 2006
  • May 2007
  • June 2007
  • January 2008
  • March 2008
  • January 2009
  • sapa kami

    # pengunjung

    web counter
    web counter
    Copyright ©2005 cis timor. All rights reserved | designed by : okke